Reza, sebuah tinjauan khusus beserta bagannya


A:”Mas, ini rex ya?”
B:”Iya. ini reza.”
A:”Kok, kaya rex?”
B:”Liat bulunya mas. Mengkilap.”
A:”Emang reza tuh apa sih mas?”
B:”Reza tuh, ibunya satin, bapaknya rex, nah anaknya reza.”
Dialog ini sering Kubika dengar atau malah mengalaminya sendiri. Kubika sendiri masih bingung. Apa sih definisi Reza (atau sering disebut rexa) sebenarnya. dan apa perbedaannya dengan rex? Apakah dengan sekali mengawinkan satin dan rex terus anak-anaknya dapat dikatakan reza?
Kubika mengutip dari http://kelinci.wordpress.com/page/3/.:
“Dr Ir Yono  C Raharjo, MSc, periset Balai Penelitian Ternak (Balitnak), Bogor. Ahli pemulia itu menyilangkan rex-satin sejak 1998. Bulu lembut dan mengkilap warisan sang ibu, satin. Sedangkan rex mewarisi bulu keriting. Bpk Yono  menuturkan reza penghasil fur alias kulit bulu yang molek dan bernilai jual tinggi sehingga berpotensi ekspor. ‘Kualitas fisik dan kulit sempurna. Panjang bulu seragam. Warna bulu mengkilap,’ ujar alumnus Ilmu Peternakan Oregon State University Amerika Serikat itu.

Melihat sosoknya, Jajang, peternak di Cipanas, Cianjur, menuturkan reza sangat istimewa karena bulunya berbeda dengan jenis lain. Bulu reza tidak mudah rontok. ‘Kalaupun lepas, paling hanya terputus di bagian tengah bulu,’ tuturnya. Panjang bulu reza mencapai 1-1,27 cm.

Keistimewaan lain, tubuhnya proporsional. Bobot mencapai 2,7 kg. Bagian belakang membulat, kaki belakang kuat, dan berisi. Selain itu ia bertulang solid, kepala lebar, dan telinga berdiri tegak. Hingga saat ini, reza memang belum menyebar lantaran Oryctologus cuniculus itu populasinya terbatas. ‘Di dunia hanya Balitnak yang punya,’ kata Yono.

Menurut Gusti Merdeka Putra, SE, peternak di Baranangsiang, Bogor, sosok reza itu sulit didapat. Jumlah anakan dari beberapa perkawinan paling pol 5 ekor, rata-rata 2-3 ekor. Padahal, seekor kelinci idealnya melahirkan 6-9 ekor.

Hal senada juga dikatakan Ir Bram Brahmantiyo, MSi, periset Balitnak Bogor, ‘Reza masih langka karena risiko kematiannya tinggi.’ Itu lantaran pengaruh gen homozygoot resesif antara induk rex dan satin. Setelah 2 kali perkawinan baru menghasilkan reza sebanyak 5%. ‘Sebab itu Balitnak terus meriset agar reza bisa stabil,’ tambah alumnus Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor itu. Selain reza, beberapa kelinci hias baru didatangkan dari mancanegara.”

Wow. ternyata jauh dari yang Kubika sangka sebelumnya. Reza lebih besar dari rex. Sekarang Kubika bertambah bingung. Asal mulanya gimana sih bisa jadi Reza murni? Akhirnya setelah mencari-cari. Kubika mendapatkan bagannya dari Herlambang Prasetya di Lembang

bagan reza
bagan reza

Seleksi yg memenuhi criteria….. dengan tujuan REZA

R = Rex   S = Satin  N = New Zealand

RS = Bulu sevelvet rex semengkilap satin

SN = Bulu semengkilap satin dan body nyaris sama dgn new Zealand

RN = Bulu semengkilap rex dan body nyaris sama dgn new Zealand

RSN = bulu nyaris se-velvet rex, semengkilap satin dan body nya terutama di bagian paha senyaris New Zealand

G : bahan kelinci pure

F1 : seleksi generasi  pertama

F2 : seleksi generasi kedua

F3 : seleksi generasi ketiga, dibagan maksudnya turunan dikawinin semuanya

Generasi di bawah F3 sudah dipastikan REZA atau reksa alias Final Stock nya, walaupun dibawahnya kemungkinan ada segregasi.

Nah, ternyata perjalanan untuk menjadi reza susah dan panjang. Tingkat kegagalan juga bisa terjadi di penghujung “perjalanan”. Semoga artikel ini bermanfaat bagi semua

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s