The Line Breeding


Image

The line-breeding chart to the left shows a common method of crossing a paternal (buck) and maternal (doe) line. Blue represents the paternal line and red represents the maternal line.

“A” (buck) and “B” (doe) are the two original rabbits the breeder is starting with.

“A” and “B” are bred together, producing the litter “C” (doe) and “D” (buck). The litter has 1/2 of the paternal and 1/2 of th

e maternal lines and is the “F1″ generation.

“C” is bred back to her sire “A” which produces the doe “E”. “E” has 3/4 of the paternal and 1/4 of the maternal line. “E” is an “F2″ generation litter.

“D” is bred back to his dam “B” which produces the buck “F”. “F” has 3/4 of the maternal line and 1/4 of the paternal line. “F” is an “F2″ generation litter.

The doe “E” is bred back to the original sire “A” producing the buck “G” who is 7/8 of the paternal and 1/8 of the maternal line. “G” is an “F3″ generation litter.

The buck “F” is bred back to the original dam “B” producing the doe “H” who is 7/8 of the maternal and 1/8 of the paternal line. “G” is an “F3″ generation litter.

At this point in the breeding program, the 7/8 “F3″ generations can be crossed to each. The buck “G” will be bred to the doe “H” producing the “F4″ generation litter “I” which contains 1/2 of the paternal and 1/2 of the maternal line.

“J” is a new buck that will now be introduced by breeding to the doe “I” producing litter “K” which has 1/2 of the new paternal line, 1/4 of the original paternal line and 1/4 of the original maternal line. Litter “K” can now be bred to “G” and “H” beginning the process over again now using “G” and “H” to breed subsequent offspring back to.

If a trio was used to start the original herd, two separate lines can be started with each original doe, and the two lines crossed when reaching the “F3″ generation.

Kelinci, penghibur saat bosan


Hibah semua kelinci di kandang, itu yang pertama ada di benak ketika lelah mengurus kelinci-kelinci yang sakit, atau tidak juga berhasil menghasilkan anak. Kadang rasa malas untuk memberi makan di kala pagi atau malam sering menghinggap. Bagaimana tidak, kalo dihitung-hitung uang yang dihabiskan serta waktu yang telah dilewatkan untuk mengurus kelinci tentunya tidak sedikit.
Satu waktu, kelinci Kobika pernah beranak dengan warna-warna yang sangat bagus dengan badan-badan yang sehat pula. Ibunya yang sangat bertanggung jawab, menyusui anaknya selama 10 hari secara teratur. Namun hama tikus membuat harapan Kobika pupus. Seluruh anak-anak kelinci mati. Sebagian dimakan tikus dan sebagian mati terinjak2 ibunya yang stres. Kekesalan Kobika sampai ke ubun-ubun. Bahkan bertambah ketika sang induk tidak menghasilkan anakan yang sama dengan yang mati.
Tapi semua itu lambat laun sirna. Seiring waktu dalam mengurus kelinci dan belajar dari kesalahan, harapan itu kembali muncul. Rasa putus asa pun hilang terhapus tingkah polah kelinci yang unik dan lucu. Apalagi jika berhasil mengobati atau membesarkan anak-anak kelinci dan menjadi indukan yang siap beranak lagi. Suatu pengalaman yang sungguh menyenangkan.
Dari situ kobika belajar untuk tidak gampang menyerah dan selalu sabar dalam menekuni sesuatu. Semoga curhatan Kobika ini memberikan semangat kepada para pemula dalam memelihara kelincinya :)

Dilema Pemasaran Kelinci


“Follower never be a leader”,itu yang Kobika ingat dari membaca salah satu litertur marketing dari seorang penulis luar. Tapi benarkah seorang yg mengikuti pakem yang sudah ada atau dijalani para pendahulu tidak akan bisa menjadi top seller?
Kobika perhatikan di setiap produk di televisi, memang merek berlomba-lomba menyuguhkan tampilan produk baru, rasa baru atau bonus dari setiap produk. Mereka berusaha memberikan suatu inovasi baru agar lebih terlihat dari produk-produk lain yang sejenis.
Kenapa begitu? Ternyata dari beberapa penelitian pasar, konsumen Indonesia sekarang lebih cepat bosan dan selalu berusaha mencari hal-hal baru. Karena waktu pun tak cukup untuk mencari hal-hal baru maka yang diambil dr sekian banyak produk adalah yang paling terlihat dan paling baru.
Ternyata tidak itu saja,kata Hermawan.K. Kita ini sekarang hidup di dunia “venus”. Dunia para wanita, konsumen baik laki maupun perempuan menuntut layaknya konsumen wanita.
Mereka menuntut purna jual yang standby dan menyenangkan. Contoh yang paling kongkrit adalah pelayanan pajak yang berubah menjadi sangat friendly dan nyaman, atau pelayanan restoran-restoran yang menyambut kita seperti seorang raja dan ratu. Bahkan customer service provider selalu menerima komplen-komplen pelanggannya di tengah malam dengan nada yang menyenangkan. Salah nada sedikit saja bisa membuat seorang pelanggan pindah ke provider lain.
Memang kalau diaplikasikan sangat sulit, apalagi dunia kelinci benar-benar dunia yang menganut cara dan sistem penjualan yang konservatif dimana rasanya sangat tidak mungkin menciptakan suatu inovasi penjualan.
Tapi sangat naif jika kita berpikir dunia kelinci tidak bisa berkembang.
Tuntutan zaman dan perilaku konsumen mau tidak mau harus kita ikuti, kecuali kita ingin menciptakan suatu tren baru atau inovasi yang tentunya sangat baik dan dapat menjadi market leader jika berhasil. Suatu inovasi pasti membutuhkan pengorbanan baik waktu dan dana. Tapi jika suatu inovasi menjadikan kita market leader, yang lain hanya menjadi follower dan leader akan mendapatkan keuntungan maksimal di pasarnya.

Renungan Pendamba Kesuksesan Perkelincian


Dua hari Kobika melakukan penelitian dengan menggunakan sosial media maupun forum seputar pelaku dunia kelinci.
Mungkin Kobika mulai dengan kisah perkelincian dua tahun yang lalu. Waktu itu dunia kelinci sangat agitatif. Semuanya bergejolak seperti keadaan merapi dalam keadaan siaga. Benar-benar membuat dag dig dug. Sedikit saja salah bergerak bisa menaikkan statusnya menjadi waspada.
Namun dibalik status itu, malah tercipta suatu dunia yang sangat exciting. Bahkan para pembelipun merasakannya. Sehingga mereka antusias menanggapi semangat para hobiis dan peternak.
Entah kenapa, semua itu hilang begitu saja. Semua intrigue dan aksi-aksi spektakuler para pelaku kelinci seperti terpendam dalam debu vulkanik. Namun hanya terpendam tapi tidak diam.
Seumpama lava panas yg terus bergerak di dasarnya. Mematikan!
Mematikan untuk siapa? Kobika berpendapat, mematikan untuk semua. Mungkin para pelaku perkelincian yang senior merasakan perubahan yang cukup signifikan dari penjualan kelinci-kelincinya. Bukan mengarah ke positif namun cenderung ke arah negatif. Sangat disayangkan!
Ketika standar kelinci mulai menanjak. Gelombang ketertarikan sudah hilang. Momen itu terlewat begitu saja. Kini yang ada hanya keluhan-keluhan tanpa semangat dan inovasi. Tidak adanya gerakan seirama yang terlihat elegan oleh pemirsa. Gerakan-gerakan itu sangat mudah teralih oleh faktor-faktor ekonomi dan sosial.
Inovasi. Apakah itu kata yang tabu di dunia kelinci? Ketika seseorang melakukan suatu breakthrough atau gebrakan, hawa negatif langsung menerpa. Apakah memang dunia kelinci adalah dunia para konservatif?
Kembali ke awal artikel ini. Kobika berpendapat, ada kejenuhan yang akut di dunia kelinci sehingga suasana itu juga dirasakan para pembeli atau pemula. Gairah yang membuat seseorang untuk melimpahkan rasa sayangnya kepada kelinci sudah nyaris hilang. Aura negatif prasangka dan persaingan di kedalaman begitu besar sehingga menghempas perahu kreatifitas dan pembaharuan yang mungkin saja dapat membuka kembali lembaran baru yang lebih baik untuk perkelincian Indonesia.
Setidaknya itu pendapat Kobika dan terus berdoa dan berusaha mengembalikan kejayaan perkelincian Indonesia.
(AA)