Breeder dan crossing kelinci


Definisi breeder menurut wikipedia adalah:

A breeder is a person who practices the vocation of mating carefully selected specimens of the same breed to reproduce specific, consistently replicable qualities and characteristics.

Atau dalam bahasa Indonesianya

Seseorang yang mengembangbiakkan jenis hewan tertentu dari breed yang sama dengan pemilihan bibit yang selektif untuk menghasilkan karakteristik dan kwalitas yang spesifik, konsisten dalam menghasilkan keturunan

nah, sekarang saya bingung lagi apa itu breed? saya liat lagi di wikipedia. Hasilnya:

A breed is a group of domestic animals with a homogeneous appearance, behavior, and other characteristics that distinguish it from other animals of the same species. When bred together, animals of the same breed pass on these uniform traits to their offspring, and this ability—known as “breeding true“—is a definitive requirement for a breed. The offspring produced as a result of breeding animals of one breed with other animals of another breed are known as crossbreeds or mixed breeds.

Breed adalah sekelompok binatang peliharaan dengan kesamaan rupa, perilaku, dan karakteristik lain yang membuatnya terlihat berbeda dengan binatang lain dari spesies yang sama. Ketika dikembangbiakan, binatang dari breed yang sama akan menurunkan semua kesamaan yang dipunyainya kepada keturunannya. Kemampuan ini disebut “breeding true”–ini adalah syarat untuk breed. Hasil perkawinan antara breed yang satu dengan breed yang lain dikenal dengan nama croosbreed atau mixed breed.

Sempet pusing juga menerjemahkannya :( Setelah saya baca lagi dari awal. Ada yang mengganggu pikiran saya. Kalo ada peternak yang sering mengcrossing kelincinya, apakah bisa di sebut breeder? Saya buka-buka lagi buku saya. Yang pertama terlintas adalah buku pegangan saya Rabbits for Dummies. Di dalamnya tertulis “breeding rabbits for a hobby without the purpose of improving the breed is irresponsible”
“Mengembangbiakkan kelinci untuk hobby tanpa ada tujuan memperbaiki breed itu sendiri adalah tindakan tidak bertanggungjawab” . Pencerahan yang saya dapat adalah, ternyata crossing bukan sesuatu yang tabu selama pelakunya mempunyai tujuan untuk memperbaiki suatu

REZA (courtesy of Markus)

REZA (courtesy of Markus)

ras tertentu. Saya inget kembali jenis reza yang bisa dibilang luar biasa. Atau barongsai Lop (kalo tidak salah, sori mas budi nasution kalo salah sebut) yang berhasil juara 3 di kontes kemaren. Crossing yang bertanggung jawab seperti tersebut menghasilkan suatu ras baru yang luar biasa dan bisa menjadi kebanggaan bangsa Indonesia di masa datang.

Bagaimana pendapat rekan-rekan tentang hali ini? keberagaman adalah rahmat. Kalau ada masukan bisa comment di artikel ini. Terima kasih

About these ads

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s