28 Feb
Kelinci, penghibur saat bosan
Hibah semua kelinci di kandang, itu yang pertama ada di benak ketika lelah mengurus kelinci-kelinci yang sakit, atau tidak juga berhasil menghasilkan anak. Kadang rasa malas untuk memberi makan di kala pagi atau malam sering menghinggap. Bagaimana tidak, kalo dihitung-hitung uang yang dihabiskan serta waktu yang telah dilewatkan untuk mengurus kelinci tentunya tidak sedikit.
Satu waktu, kelinci Kobika pernah beranak dengan warna-warna yang sangat bagus dengan badan-badan yang sehat pula. Ibunya yang sangat bertanggung jawab, menyusui anaknya selama 10 hari secara teratur. Namun hama tikus membuat harapan Kobika pupus. Seluruh anak-anak kelinci mati. Sebagian dimakan tikus dan sebagian mati terinjak2 ibunya yang stres. Kekesalan Kobika sampai ke ubun-ubun. Bahkan bertambah ketika sang induk tidak menghasilkan anakan yang sama dengan yang mati.
Tapi semua itu lambat laun sirna. Seiring waktu dalam mengurus kelinci dan belajar dari kesalahan, harapan itu kembali muncul. Rasa putus asa pun hilang terhapus tingkah polah kelinci yang unik dan lucu. Apalagi jika berhasil mengobati atau membesarkan anak-anak kelinci dan menjadi indukan yang siap beranak lagi. Suatu pengalaman yang sungguh menyenangkan.
Dari situ kobika belajar untuk tidak gampang menyerah dan selalu sabar dalam menekuni sesuatu. Semoga curhatan Kobika ini memberikan semangat kepada para pemula dalam memelihara kelincinya
2 Dec
Dilema Pemasaran Kelinci
“Follower never be a leader”,itu yang Kobika ingat dari membaca salah satu litertur marketing dari seorang penulis luar. Tapi benarkah seorang yg mengikuti pakem yang sudah ada atau dijalani para pendahulu tidak akan bisa menjadi top seller?
Kobika perhatikan di setiap produk di televisi, memang merek berlomba-lomba menyuguhkan tampilan produk baru, rasa baru atau bonus dari setiap produk. Mereka berusaha memberikan suatu inovasi baru agar lebih terlihat dari produk-produk lain yang sejenis.
Kenapa begitu? Ternyata dari beberapa penelitian pasar, konsumen Indonesia sekarang lebih cepat bosan dan selalu berusaha mencari hal-hal baru. Karena waktu pun tak cukup untuk mencari hal-hal baru maka yang diambil dr sekian banyak produk adalah yang paling terlihat dan paling baru.
Ternyata tidak itu saja,kata Hermawan.K. Kita ini sekarang hidup di dunia “venus”. Dunia para wanita, konsumen baik laki maupun perempuan menuntut layaknya konsumen wanita.
Mereka menuntut purna jual yang standby dan menyenangkan. Contoh yang paling kongkrit adalah pelayanan pajak yang berubah menjadi sangat friendly dan nyaman, atau pelayanan restoran-restoran yang menyambut kita seperti seorang raja dan ratu. Bahkan customer service provider selalu menerima komplen-komplen pelanggannya di tengah malam dengan nada yang menyenangkan. Salah nada sedikit saja bisa membuat seorang pelanggan pindah ke provider lain.
Memang kalau diaplikasikan sangat sulit, apalagi dunia kelinci benar-benar dunia yang menganut cara dan sistem penjualan yang konservatif dimana rasanya sangat tidak mungkin menciptakan suatu inovasi penjualan.
Tapi sangat naif jika kita berpikir dunia kelinci tidak bisa berkembang.
Tuntutan zaman dan perilaku konsumen mau tidak mau harus kita ikuti, kecuali kita ingin menciptakan suatu tren baru atau inovasi yang tentunya sangat baik dan dapat menjadi market leader jika berhasil. Suatu inovasi pasti membutuhkan pengorbanan baik waktu dan dana. Tapi jika suatu inovasi menjadikan kita market leader, yang lain hanya menjadi follower dan leader akan mendapatkan keuntungan maksimal di pasarnya.
17 Nov
Renungan Pendamba Kesuksesan Perkelincian
Dua hari Kobika melakukan penelitian dengan menggunakan sosial media maupun forum seputar pelaku dunia kelinci.
Mungkin Kobika mulai dengan kisah perkelincian dua tahun yang lalu. Waktu itu dunia kelinci sangat agitatif. Semuanya bergejolak seperti keadaan merapi dalam keadaan siaga. Benar-benar membuat dag dig dug. Sedikit saja salah bergerak bisa menaikkan statusnya menjadi waspada.
Namun dibalik status itu, malah tercipta suatu dunia yang sangat exciting. Bahkan para pembelipun merasakannya. Sehingga mereka antusias menanggapi semangat para hobiis dan peternak.
Entah kenapa, semua itu hilang begitu saja. Semua intrigue dan aksi-aksi spektakuler para pelaku kelinci seperti terpendam dalam debu vulkanik. Namun hanya terpendam tapi tidak diam.
Seumpama lava panas yg terus bergerak di dasarnya. Mematikan!
Mematikan untuk siapa? Kobika berpendapat, mematikan untuk semua. Mungkin para pelaku perkelincian yang senior merasakan perubahan yang cukup signifikan dari penjualan kelinci-kelincinya. Bukan mengarah ke positif namun cenderung ke arah negatif. Sangat disayangkan!
Ketika standar kelinci mulai menanjak. Gelombang ketertarikan sudah hilang. Momen itu terlewat begitu saja. Kini yang ada hanya keluhan-keluhan tanpa semangat dan inovasi. Tidak adanya gerakan seirama yang terlihat elegan oleh pemirsa. Gerakan-gerakan itu sangat mudah teralih oleh faktor-faktor ekonomi dan sosial.
Inovasi. Apakah itu kata yang tabu di dunia kelinci? Ketika seseorang melakukan suatu breakthrough atau gebrakan, hawa negatif langsung menerpa. Apakah memang dunia kelinci adalah dunia para konservatif?
Kembali ke awal artikel ini. Kobika berpendapat, ada kejenuhan yang akut di dunia kelinci sehingga suasana itu juga dirasakan para pembeli atau pemula. Gairah yang membuat seseorang untuk melimpahkan rasa sayangnya kepada kelinci sudah nyaris hilang. Aura negatif prasangka dan persaingan di kedalaman begitu besar sehingga menghempas perahu kreatifitas dan pembaharuan yang mungkin saja dapat membuka kembali lembaran baru yang lebih baik untuk perkelincian Indonesia.
Setidaknya itu pendapat Kobika dan terus berdoa dan berusaha mengembalikan kejayaan perkelincian Indonesia.
(AA)
18 Oct
Pro Kontra Kelinci Import
Perkelincian Indonesia sempat mengalami pasang surut. Namun semua itu dihadapi oleh para peternak dengan gigih dan pantang menyerah.
Semakin lama konsumen semakin menuntut lebihj dari para peternak. Kemajuan era informasi membuat para konsumen tidak kehabisan akal untuk mencari informasi seputar standar kelinci.
Tuntutan ini membuat beberapa hobiis dan peternak memutuskan mengimport kelinci dari US yang menjadi kiblat perkelincian.
Masalah baru timbul, bagaimana dengan para peternak yang tidak mampu mengimport kelinci yang nilainya jutaan itu?
Kobika sempat chat dengan beberapa peternak yang khawatir dengan masuknya kelinci import yang tentunya kualitasnya sangat baik. Kekhawatiran menurunnya penjualan sampai berubahnya cara pandang penggemar kelinci sehingga hanya mau membeli peranakan kelinci import membuat Kobika terus mencari tahu dampak dari arus import ini.
Kobika memulai dengan mencari tahu harga-harga anakan kelinci import. Mungkin untuk para hobiis yang berkantung tebal dan sangat mengerti dan menginginkan kelinci kualitas tinggi, harga 1-2 juta tentunya tidak akan jadi masalah. Jumlah pembelinyapun tidak terlalu banyak. Kenapa Kobika berpatokan dengan anakan kelinci import dan bukan indukan yang diimport langsung? Karena hanya anakannya lah yang harganya “mendekati” kelinci lokal.
Bagaimana dengan kelinci lokal? Ternyata peminatnya masih cukup banyak. Melihat harga yang terjangkau, kualitas kelinci yang cukup baik, dan ketersediaan stok yang cukup variatif. Membuat para pembeli banyak yang setia pada kelinci lokal.
Selain itu, masih banyak hobiis kelinci musiman yang tentunya tidak rela mengeluarkan uang terlalu banyak untuk seekor kelinci.
Kobika mengambil kesimpulan bahwa pasar kelinci sama dengan pasar-pasar binatang lain. Yang hobiis tulen dan mumpuni akan membeli kelinci dengan kualitas tinggi. Sedangkan mayoritas konsumen yang kebanyakan hobiis musiman,tetap setia pada produk dalam negeri. Yang tentu saja, murah bukan berarti tidak bagus.Prestasi kelinci lokal cukup bagus dan tentu saja terus berharap dapat meningkat dan mengimbangi kelinci import.
(AA)
16 Oct
Dilema Pakan Kelinci
Kelinci terkenal dengan predikat hewan dengan pencernaan yang sensitif. Ketika ingin membeli kelinci pertama kali yang ditanyakan tidak jauh dari pakan yang sebaiknya diberikan kepada kelinci.
Info yang diberikan para pedagangpun beraneka ragam sehingga sering menimbulkan kebingungan dan perdebatan.
Kobika berusaha mempermudah para pemula dalam memilih pakan kelinci.
Kelinci pada dasarnya membutuhkan serat untuk pencernaannya. Maka pakan yang ideal adalah rumput atau hay (rumput yang dikeringkan). Namun rumput pastinya cukup sulit ditemukan di kota besar seperti Jakarta. Hal ini juga dialami Kobika.
Yang paling mudah adalah dengan membeli pelet-pelet bermerk yang dijual di toko-toko. Sebagian adalah import namun ada juga pelet lokal yang dikemas secara menarik layaknya produk import.
Pemilihan pelet tentunya akan sangat mudah karena komposisi tercantum di kemasan pelet dan tidak ada perbedaan yang signifikan dalam komposisi tersebut.
Selain lebih higienis,biasanya pelet impor terlihat lebih menarik daripada yang lokal. Namun bukan berarti produk lokal lebih buruk.
Mungkin para hobiis ragu dengan kualitas pelet-pelet lokal. Menurut Kobika tidak perlu ada kekhawatiran berlebih karena pelet-pelet tersebut berkualitas cukup baik dan komposisinyapun disesuaikan dengan kebutuhan kelinci disini.
Yang sebaiknya dipertimbangkan adalah media penyimpanan pelet lokal yang beberapa merek cepat berjamur jika penempatannya kurang baik.
Jangan alergi dulu dengan pelet lokal. Ini menunjukkan minim atau tidak digunakannya pengawet dalam pelet lokal. Tentunya ini adalah kabar baik buat kelinci-kelinci kita.
Kabar baik untuk sang pemilik adalah harganya yang sangat murah.
Namun hati-hati dengan penyajiannya. Penumpukan sisa-sisa pakan dapat menimbulkan jamur dan dapat mematikan bagi kelinci. Ini berlaku bagi semua pelet.
Selain pelet, kelinci dapat diberikan pakan tambahan berupa buah apel,wortel,tomat.Sehingga dapat membantu penyerapan gizi ke tubuh kelinci.
16 Oct
Kelinci Merontokkan Bulu Leher
Kobika sempat dibuat penasaran dengan kelinci yang merontokkan bulu lehernya padahal tidak dikawinkan.
Kobika memberi obat salep pada bagian yang sudah botak dan hasilnya memuaskan. Dalam beberapa hari saja,kerontokan sudah mulai tertutup lagi oleh bulu. Kobika berhenti memberikan salep.
2 minggu kemudian gejala itu berulang dan kali ini lebih parah dari sebelumnya karena seperti ada luka dalam yang mengering layaknya abses.
Apa yang menyebabkan luka begitu cepat terjadi? Kobika selama 2 hari mengamati secara intensif kelinci yang sakit dan memberikan pengobatan yang sama. Letak botol airpun agak ditinggikan agar luka dapat lekas kering.
Akhirnya Kobika menemukan penyebabnya. Mangkok makan yang dipakai Kobika mempunyai pinggiran yang cukup tinggi dan tipis. Pada saat pemberian pakan, mangkok yang dicuci sebelumnya tidak kering dan leher kelinci tergesek terus menerus selama makan. Hal ini menyebabkan luka dan jamur sehingga kelinci mencabuti bulu-bulu disekitar luka.
Kobika mengganti mangkok dengan yang lebih pendek serta pengobatan dengan salep. Hasilnya Alhamdulillah. Kelinci sehat kembali.
15 Oct
Menghindari Induk Memakan Anaknya
Kobika sempat dipusingkan dengan induk yang selalu memakan anak-anaknya atau menduduki anak-anaknya. Padahal pakan yang diberikan tetap regular. Akhirnya Kobika mencoba merunut satu-satu apa saja yang bisa menyebabkan induk melakukan hal-hal yang tidak terpuji itu.
Kobika mencoba pada indukan pertama memasukkan kotak pada hari ke 27. Semua berjalan lancar. Induk membuat sarang dan merontokkan bulu. Kobika kemudian menutup kandang agar tidak terganggu. Setelah lahir, induk berperilaku normal sampai hari ke 4. Anakan semua wafat dengan tubuh gepeng.
Indukan kedua tahap-tahap awal tetap sama. Perubahan hanya dilakukan pada saat pemberian pakan yang menjadi 3 kali dalam sehari. Ternyata hasilnya sama. Malah lebih parah,induk memakan anaknya.
Indukan ketiga tahap-tahap awal juga tetap sama,namun yang berbeda dari waktu pemberian pakan. Kobika memberi pakan pada jam 8 pagi, jam 2 siang (hanya berupa wortel & buah) dan jam 6 sore. Kandang ditutup agar tidak stres karena kandang Kobika cukup sering dilalui orang.
Ternyata Kobika sukses menekan kematian dan kanibalisme.
Jam pemberian pakan ternyata cukup berpengaruh pada tingkat stres induk kelinci. Selain gizi dan air yang selalu tersedia.
Kobika juga memperhatikan kandang yang dibawahnya sering disatroni tikus, tingkat kegagalannya cukup tinggi.
Perlu dipertimbangkan untuk melatih induk agar tidak mudah stres dengan cara sering mengelus-elus pada saat hamil muda sehingga ia mengenal bau tangan pemiliknya dan tidak mudah stres jika kita memasukkan tangan kita ke kandang.











Recent Comments